Jangan Minum Saat Berkeringat


Setelah postingan hipertensi banyak sekali pertanyaan tentang bagaimana mengendalikan asupan air. Apakah artinya tidak boleh minum? Apakah harus banyak minum?

Menjawab satu persatu pertanyaan tersebut agak menyulitkan. Untuk itu saya buat postingan lanjutan ini, agar menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Berkali-kali saya sampaikan autofagi bukanlah puasa. Puasa bukan satu²nya cara dalam mengaktivasi mekanisme autofagi. Untuk sahabat yang masih berpendapat autofagi adalah puasa sebaiknya tidak melanjutkan membaca postingan ini. Karena autofagi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesalehan.

Pandangan yang mengatakan penelitian Ohsumi menunjukkan manfaat puasa untuk autofagi malah sedikit memanipulasi pemahaman autofagi. Jadinya sahabat gagal dalam memahami mekanisme autofagi untuk berbagai kondisi.

Salah satu cara yang dibahas disini adalah olah raga. Olah raga dapat memicu mekanisme autofagi, berdasarkan temuan Profesor de Duve. Pada saat olah raga terjadi konsumsi glukosa yang cepat dan banyak. Konsumsi glukosa yang cepat dan banyak akan mengakibatkan kadar glukosa darah menurun dengan cepat.

Untuk mereka yang memiliki mekanisme autofagi yang baik, hal ini akan merangsang pelepasan glukagon. Pelepasan glukagon akan mengakibatkan aktivasi lisosom dab peroksisom. Peroksisom akan melakukan glukoneogenesis dari jaringan lemak.

Proses glukoneogenesis dari jaringan lemak menggunakan peroksida. Peroksida diakhir proses akan dipecah menjadi air dan oksigen oleh peroksidase. Sayangnya, proses pemecahan peroksida menjadi air dan oksigen ini merupakan reaksi keseimbangan.

H²O² <=peroksidase=> H²O +O²

Artinya jika jumlah peroksida (H²O²) tinggi, maka reaksi akan bergeser ke kanan, terbentuk air (H²O) dan oksigen (O²). Sebaliknya jika jumlah air (H²O) dan oksigen (O²) yang banyak maka keseimbangan reaksi akan bergeser ke arah kiri, terbentuk peroksida.

Peroksida sejatinya bersifat korosif pada jaringan mahluk hidup. Produksi peroksida yang berlebihan akibat bergesernya keseimbangan reaksi mengakibatkan perpindahan peroksida dari jaringan ke pembuluh darah. Hal ini tentu saja merupakan kondisi yang berbahaya.

Peroksida dapat mengakibatkan saturasi (pelarutan) protein . Akibatnya apapun yang dilaluinya mengalami lisis. Yang tersering adalah eritrosit. Tak heran dalam pemberian cairan yang tidak adekuat justru malah menimbulkan anemi hemolitik yang hebat.

Selain eritrosit, peroksida juga dapat melukai dinding pembuluh darah itu sendiri. Dapat terjadi perdarahan spontan. Pada orang yang pembuluh darahnya telah mengalami penyempitan akibat timbunan lemak trigliserida, hal ini dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan ini jika terjadi pada pembuluh darah kecil yang vital seperti arteri koroner dapat mengakibatkan kondisi fatal.

Artinya sebaiknya sahabat tidak boleh minum saat tengah berlangsung proses glukoneogenesis. Lalu dari mana kita tahu sedang terjadi proses glukoneogenesis?

Keringat! Ya, berkeringat merupakan tanda tubuh sedang melakukan proses glukoneogenesis. Mengapa? Karena kelenjar keringat merupakan jaringan lemak. Jaringan lemak yang mengandung peroksisom dan dipengaruhi oleh glukagon untuk melakukan glukoneogenesis. Ini tentu bertentangan dengan iklan minuman cairan isotonik, yang menunjukkan para modelnya minum saat berkeringat hebat. 😅🙏

Lalu kapan saat minum terbaik hingga dapat menurunkan tekanan darah? Setelah buang air kecil. Sahabat harus memanfaatkan waktu itu minum sebanyak yang sahabat mampu. Mengapa?

Pada postingan sebelumnya, saya telah jelaskan peningkatan kadar glukosa darah akan memicu buang air kecil. Proses buang air kecil akan memicu pengaktifan sistem renin angiotensin. Sistem renin angiotensin akan meningkatkan tekanan darah.

Artinya saat sahabat minum setelah buang air kecil, maka akan mengakibatkan hemodilusi (pengenceran darah). Sehingga tekanan osmotik berkurang. Hal ini akan mencegah aktivasi sistem renin angiotensin. Hingga tekanan darah tetap terjaga. Hemodilusi juga memberikan keuntungan lain berupa menurunnya kadar glukosa darah. Jika disertai dengan aktivitas yang cukup penurunan ini akan merangsang pelepasan glukagon kembali. Dan dimulailah proses autofagi…

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan sahabat-sahabat setelah membaca postingan hipertensi. Jadi jangan minum saat berkeringat hebat dan minumlah segera setelah buang air kecil.

Salam, semoga menjadi inspirasi hidup sehat.

Ditulis oleh: dr. Dikdik Kodarusman

Referensi: Jangan Minum Saat Berkeringat

Tags:


Keep reading

Diabetes Bukan Kondisi Permanen

Penyakit diabetes bukanlah suatu kondisi yang tidak bisa disembuhkan.

Sisi Buruk Autofagi, Diabetes

Renunang Sisi Buruk Autofagi, Diabetes.

Mengatasi Depresi Tanpa Psikotropika

Renungan Autofagi : Mengatasi Depresi Tanpa Psikotropika

Jangan Minum Saat Lapar

Renungan Autofagi: Jangan Minum Saat Lapar