Jangan Minum Saat Lapar


Awalnya saya ragu untuk terus mengkaji mekanisme autofagi. Terlalu banyak fakta yang mengejutkan yang saya temukan. Fakta yang berkaitan dengan apa yang selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran dalam dunia kesehatan.

Keraguan ini semakin memuncak saat membaca postingan salah seorang guru besar kedokteran universitas ternama di Indonesia. Beliau mengklaim telah berhasil memecahkan masalah seorang pasen dengan tehnik pembedahan yang dilakukannya. Postingan guru besar ini dishare oleh salah seorang sahabat sejawat.

Yang membuat saya takut karena dengan mudah saya menemukan potensi bahaya dari tindakan tersebut. Emangnya saya siapa, dia siapa?! Tapi sungguh potensi komplikasi dari tindakan tersebut dapat diprediksikan.

Hal yang paling menakutkan adalah menemukan kesalahan dari orang-orang yang kita hormati. Takut, apa yang kita sampaikan salah, atau tidak diterima karena posisi kita. Bahkan takut apa yang kita sampaikan menjadi bumerang buat kita sendiri.

Karena itu saya sampaikan pada sahabat² untuk menghentikan pembahasan tentang autofagi. Namun, setelah beberapa saat saya pertimbangkan ulang, mungkin kita bisa mengambil jalan tengah. Menyampaikan secara bertahap. Mudah-mudahan dengan cara ini lebih mudah diterima oleh siapapun.

Baiklah, sebagai awal saya ingin membahas tentang minum. Pembahasan ini penting karena banyak sekali dipraktekan dalam berbagai diet. Hasilnya, banyak yang merasa menjalankan diet malah timbul banyak penyakit.

Dalam postingan sebelumnya tentang diabetes, telah dibahas tentang asal rasa lapar. Rasa lapar muncul karena dilepaskannya leptin ke otak. Leptin sendiri dihasilkan dari pemecahan asam lemak.

Pemecahan lemak dilakukan oleh peroksisom yang terutama banyak di sel hati. Artinya saat terjadi lapar berarti terjadi pemecahan lemak oleh peroksisom. Pemecahan ini menggunakan peroksida (H²O²) yang kemudian dipecah kembali menjadi air (H²O) dan oksigen (O²). Reaksi ini merupakan reaksi keseimbangan oleh enzim peroksidase :

H²O² <=peroksidase=> H²O +O²

Karena merupakan proses keseimbangan bolak-balik, maka jika peroksida tinggi maka keseimbangan reaksi bergeser ke kanan. Akan dihasilkan air dan oksigen. Namun jika air dan oksigen yang tinggi maka reaksi bergeser ke kiri. Akan dihasilkan peroksida.

Itulah sebabnya mengapa pada saat lapar justru terlarang minum. Padahal, keyakinan praktisi diet selama ini justru menganjurkan minum sebanyak-banyaknya untuk menahan lapar. Akibatnya konsentrasi peroksida yang meningkat di dalam tubuh.

Yang pertama kali mengalami kerusakan akibat peningkatan peroksida tentu saja sel hati. Sebelumnya telah disebutkan jika peroksisom, penghasil peroksida terdapat banyak di dalam sel hati. Hal ini dapat dibuktikan dengan temuan kadar SGOT dan SGPT yang tinggi dalam darah. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT digunakan untuk menilai ada tidaknya kerusakan jaringan. Pada peroksida yang tinggi dapat ditemukan kadar SGOT dan SGPT yang bahkan bisa 2-3 kali di atas normal.

Pada penderita akan terlihat lemah, demam dan kehilangan konsentrasi. Umumnya oleh dokter kondisi ini dihubungkan dengan kelelahan hebat. Namun jika di anamnesa lebih teliti, yang terbanyak akibat minum yang banyak. Biasanya berhubungan dengan praktik diet tertentu.

Umumnya kondisi ini tidak terlalu lama. Dengan istirahat yang cukup dan asupan protein yang cukup keluhan ini cepat dapat di atasi. Yang terpenting jangan terulang, karena tubuh anda mengingat hal itu sebagai respons mekanis terhadap air minum.

Kondisi selanjutnya adalah terjadinya anemi. Anemi sangat mungkin apabila peroksida mulai masuk ke dalam sistem sirkulasi. Peroksida mengakibatkan eritrolisis. Anemi ini juga sangat mungkin disertai leukopeni atau penurunan sel darah putih. Untuk kondisi ini mau tidak mau harus dilakukan transfusi jika kondisinya benar-benar buruk.

Sekali lagi jangan menutupi lapar dengan minum ya. Kalau tidak mau dietnya gagal, bisa makan makanan tinggi protein dan lemak. Ternyata asupan lemak dari luar justru menghambat pembentukan lemak oleh tubuh.

Salam semoga menjadi inspirasi hidup sehat.

Ditulis oleh: dr. Dikdik Kodarusman

Referensi: Sisi Buruk Autofagi, Diabetes

Tags:


Keep reading

Diabetes Bukan Kondisi Permanen

Penyakit diabetes bukanlah suatu kondisi yang tidak bisa disembuhkan.

Sisi Buruk Autofagi, Diabetes

Renunang Sisi Buruk Autofagi, Diabetes.

Mengatasi Depresi Tanpa Psikotropika

Renungan Autofagi : Mengatasi Depresi Tanpa Psikotropika

Mengapa Afirmasi Saya Gagal Bagian 2

Mengapa Afirmasi Saya Gagal Bagian 2